Seiring waktu frekuensi perjalanan hidup tidak pernah stabil seperti yang diharapkan, untuk menjadi orang yang sempurna menjalankan kehalifahan sesaat dibumi ini. Rumitnya perjalanan hidup bukanlah penghalang untuk jauh dari Allah, biarlah fikiran, fisik sibuk menjalankan tugasnya namun hati jangan sampai lengah menjaga fikiran dan fisik agar tidak terbawa arus yang salah. Hati yang mampu menjaga adalah hati yang tak pernah lalai dari Allah, Allah disini nur meliputinya, hamba yang dredhoi akan menggapainya.
Selasa, 02 Februari 2016
Senin, 14 September 2015
Hanya Dari Allah dan Untuk Allah
Semakin maju pradaban diiringi kemajuan teknologi, manusia sebagai obyek utama dimuka bumi ini secara perlahan telah mendidik dirinya berpaling dari Allah walaupun secara lahiriyah mereka telah menjalankan ketentuan Tuhannya namun mereka tidak sadar jalan mana yang ditempuh.
Banyak hal yang perlu diluruskan, ini adalah tugas kita bersama sebagai halifah dimuka bumi ini, bukan hanya seorang intelek pakar keilmuan namun banyak diantara kita mampu menembus kebenaran itu dalam kadar tertentu. Kebenaran itu adalah jalan yang lurus sebagaimana firman Tuhan dan sabda Nabi dan Rasulnya namun yang perlu dikaji secara mendalam disini adalah bagaimana mengelola Firman Allah dan sabda Nabi dan Rasul sehingga dapat dipraktekkan mendekati kesempurnaan.
Tidak perlu belajar terlalu tinggi, dasar yang kokoh akan membawa menuju puncak dengan selamat, satu contoh "Beribadah Karena Allah" kalimat yang sangat sederhana merupakan kunci kesempurnaan itu. Banyak yang keseleo disini, ada sekedar ucapan, ada juga ucapan dan dimaknai hati, lebih tinggi lagi menghadirkan Allah disetiap aktifitas sehari-hari terutama disaat menjalankan ibadah yang diwajibkan.
Allah yang memberikan hidayah, niat untuk berbuat baik, niat/mengerjakan ibadah, dan lainya, bukan manusia sendiri berbuat baik, bukan manusia sendiri mengerjakan sholat yang khusuk atau amal saleh lainnya, Dilah Allah pelaku utama menggerakkan jasad maupun Qalbu. Tugas kita disini adalah bagaimana menerima pancaran hidayah Allah |dari Allah| dikelola oleh qalbu lalu disingkronkan dalam prakteknya |untuk Allah|
Semoga pesan singkat ini bermanfaat untuk menghidupkan qalbu.
Allah yang memberikan hidayah, niat untuk berbuat baik, niat/mengerjakan ibadah, dan lainya, bukan manusia sendiri berbuat baik, bukan manusia sendiri mengerjakan sholat yang khusuk atau amal saleh lainnya, Dilah Allah pelaku utama menggerakkan jasad maupun Qalbu. Tugas kita disini adalah bagaimana menerima pancaran hidayah Allah |dari Allah| dikelola oleh qalbu lalu disingkronkan dalam prakteknya |untuk Allah|
Semoga pesan singkat ini bermanfaat untuk menghidupkan qalbu.
Rabu, 22 April 2015
Tembang "Gagak Putik" Indar Jaya
Download disini
https://drive.google.com/file/d/0B0gb9kuuHYLhTDNRN3JTYmZib00/view?usp=docslist_api
Jumat, 03 Januari 2014
Jumat, 04 Oktober 2013
Senin, 19 Agustus 2013
Jumat, 26 Juli 2013
Sahabat Sejati
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Tak ada sahabat sejatimu kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada (sahabat seperti itu) kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang menuntutmu, tetapi sama sekali tuntutan itu tidak ada kepentingannya darimu untuk-nya.”
Tak ada yang lebih tahu aib kita secara detil dan rinci melainkan Allah swt, karena Dia-lah yang tak pernah meninggalkan anda ketika anda dalam kondisi hina dan tidak menolak anda ketika anda dalam kondisi sangat kurang, bahkan senantiasa mengasihi anda dalam situasi apa pun.
Pada saat begitu Dia memerintahkan anda dan melarang anda, namun anda maksiat pada-Nya, namun Dia tidak meninggalkan anda, bahkan dengan rasa belas kasih-Nya Dia memanggilmu untuk datang kepada-Nya di saat anda alpa.
Namun jika yang tahu aib anda secara detil itu adalah makhluk, maka para makhluk pun justru meninggalkan anda dan melempari anda atas perbuatan anda selama ini. Namun Allah Swt dengan segala cinta dan kasih sayang-Nya senantiasa malah menjaga anda. Namun yang menyadari itu sangat sedikit.
Allah Swt tidak pernah meminta imbal balik kita dibalik perlindungan, perintah, tuntutan dan larangan-Nya. Sedangkan pergaulan dan persahabatan dengan makhluk penuh dengan tuntutan dan kepentingan. Maka sahabat sejati sesungguhnya yang menyadarkan kepentingan yang kembali pada diri kita, hal-hal yang berguna maupun hal-hal mana yang berbahaya.
Namun rasa yaqin yang rendah dan lemah membuat anda terhijab dari semua itu. Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
“Seandainya cahaya yaqin memancar, pasti anda melihat akhirat lebih dekat padamu dibanding anda menempuhnya. Dan sungguh anda memandang keindahan dunia tak lebih dari reruntuhan fana yang tampak padanya.”
Dunia hanyalah khayal dalam wujudnya, apabila anda benar-benar tercerahi oleh cahaya yaqin.
Ahmad bin Ashim al-Anthaky ra menegaskan, “Yaqin adalah nur yang dijadikan Allah swt dalam hati hamba-Nya, hingga ia melihat perkara akhiratnya dan cahaya itu membakar semua hijab antara Dia dan dirinya, sampai akhirat tampak begitu jelas dalam perspektifnya.”
Suatu hari Rasulullah Saw, bertanya kepada Haritsah ra, “Apa kabarmu pagi ini wahai Haritsah?”
“Saya dalam kondisi beriman yang benar,” jawab Haritsah.
Rasulullah saw, bersabda, “Setiap kebenaran ada hakikatnya, lalu apa hakikat imanmu?”
“Seakan-akan saya berada di Arasy Tuhanku benar-benar ditegakkan dan saya melihat ahli syurga sedang menikmati nikmat-nikmat-Nya di syurga dan ahli neraka sedang saling minta pertolongan,” kata Haritsah.
Rasulullah saw, bersabda, “Kamu sedang mengenal maka teguhlah. Seorang hamba yang qalbunya dicerahi cahaya oleh Allah….” (Al-Hadits).
Rasulullah saw, pernah bersabda, “Bila cahaya masuk dalam hati, maka hati akan lapang…”
Rasul saw, ditanya, “Wahai Rasulullah apakah ada tanda untuk mengenal itu?”
Beliau menjawab, “Merasa kosong di negeri tipudaya dan kembali pada negeri keabadian, serta mempersiapkan bekal mati sebelum waktunya tiba…”
Langganan:
Postingan (Atom)