Minggu, 17 Februari 2013

Muroqobah Fokus pada Allah

Sufinews.com

Wahai penempuh jalan Allah, hendaknya Anda menetapi jalan akhirat melalui ajaran yang telah diperintahkan kepadamu dalam aktivitas lahiriahmu. Bila Anda telah melakukannya, maka duduklahdalam hamparan Muraqabah. Raihlah dengan penjernihan batinmu, hingga tak tersisa sedikitpun yang menghalangimu. Berikanlah hak keseriusan dan ketekunanmu, lalu minimkanlah pandanganmu untuk melihat lahiriahmu. Apabila Anda ingin dibukakan rahasia batinmu, untuk mengetahui rahasia alam malakut Tuhanmu berupa intuisi ruhani yang datang kepadamu yang kemudian dihalangi oleh bisikan-bisikan yang manjauhkan dari keinginanmu, maka ketahuilah pertama-pertama, bahwa kedekatanTuhanmu pada dirimu merupakan ilmu yang langsung berkaitan dengan hatimu, melalui pengulangan terus menerus pandangan dalam menarik kemanfaatanmu dan menolak bahayamu. Lihatlah firman Allah Swt.: “Adakah sang Khalik selain Allah, yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi”

Sesungguhnya yang dari bumi adalah nafsumu, dan yang dari langit adalah hatimu. Apabila ada sesuatu yang turun dari langit ke bumi, lalu siapakah yang memalingkan dari dirimu pada selain Allah: “Allah mengetahui apa yang ada di dalam bumi dan apa yang keluar darinya, serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik di dalamnya. Dan Allah menyertaimu dimanapun kamu berada.” (Qur’an)

Berikanlah hak kesertaanNya dengan konsistensi ubudiyah kepada-Nya dalam aturan-aturan-Nya. Tinggalkan kontra terhadap Sifat Rububiyah dalam Af’al-Nya. Siapa yang kontra kepada-Nya akan kalah: “Dan Dia adalah Maha Perkasa di atas hamba-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Meneliti.”

Apa yang saya katakan kepadamu ini sungguh benar: “Tiada yang muncul dari nafas-nafasmu, kecuali Allahlah yang mengaturnya, apakah Anda pasrah atau menolak. Karena Anda ingin pasrah pada suatu waktu, dan Anda mengabaikan, di waktu yang lain. Atau Anda ingin kontra pada suatu saat, lalu Anda mengabaikan, kecuali yang ada hanya pasrah. Semua itu menunjukkan Rububiyah-Nya dalam seluruh tindakan-Nya apalagi pada sisi orang yang sibuk dengan menjaga hatinya untuk meraih hakikat-hakikat-Nya.

Apabila permasalahannya sedmikian rupa, maka berikanlah haknya adab berkaitan dengan apa yang datang kepadamu, dengan Anda bersaksi terhadap sesuatu dari dirimu bahwa tiada awal kecuali dengan Awal-Nya, dan tiada yang akhir kecuali dengan Pengakhiran-Nya, tiada dzahir kecuali dengan Dzahir-Nya, tiada batin kecuali dengan Batin-Nya. Apabila Anda telah sampai pada awalnya awal, Anda akan melihat, terhadap apa yang dilimpahi-Nya.

Apabila muncul suatu bisikan dari Sang kekasih yang sesuai atau tidak dengan dirimu, yang tidak diharamkan syariat, maka lihatlah mengapa Allah ciptakan di dalam dirimu melalui pengaruh intuitif dalam kondisimu. Bila Anda menemukan bnentuk peringatan yang menyadarkan Anda pada Allah Swt, Anda harus membenarkannya. Itulah adab waktu bagi Anda. Anda jangan kembali pada selain itu. Apabila Anda tidak menemukan jalan pembenaran, maka tanjakkan diri ke hadapanNya, maka itulah adab waktu pada dirimu. Namun bila Anda kembali kepada selain jalan itu, berarti Anda telah salah jalan.

Apabila hal itu tidak muncul dari dirimu, Anda harus bertawakal, ridha dan pasrah. Bila masih belum menemukan jalan menempuhnya Anda harus berdoa agar bisa menarik menfaat dan menolak bencana dengan disertai taslim dan pasrah total. Saya peringatkan agar anda tidak berupaya demi sebuah pilihanmu, karena ikhtiyar demikian merupakan keburukan di mata orang yang memiliki mata batin.

Dengan demikian ada empat adab:
Adab Tahqiq
Adab Keluhuran
Adab Tawakal
Adab Doa.

Siapa yang mendapatkan hakikat bersama-Nya akan terjaga oleh-Nya.
Siapa yang diluhurkan oleh Allah, cukuplah bersama Allah, tanpa lainNya.
Siapa yang tawakal kepadaNya, ia melepaskan ikhtiar/pilihan dirinya, menyandarkan pada pilihan-Nya.
Siapa yang mendoa pada-Nya dengan syarat menghadap dan mahabbah pada-Nya, Insya Allah akan diijabahi menurut kelayakan dari-Nya. Atau doanya tidak diijabahi —jika Dia menghendaki— karena kehendak doanya tidak membuatnya maslahat. Setiap masing-masing etika ini ada hamparan keleluasaan.

Hamparan pertama, adalah keleluasaan “tahqiq”. Apabila ada sesuatu intuisi (bisikan halus) yang datang kepadamu tanpa tahqiq, lalu engkau dibukakan sifat-sifat-Nya, maka seharusnyalah Anda tetap dengan rahasia batin Anda, dan diharamkan Anda menyaksikan selain Allah Ta’ala.

Hamparan kedua, adalah hamparan keluhuran. Manakala datang intuisi kepadamu, selain keluhuran, dan Anda dibukakan melalui Af’al-Nya, maka luhurkanlah dirimu di sana melalui rahasia batinmu. Anda diharamkan menyaksikan selain Sifat-sifat-Nya, dan Anda sebagai pihak yang menyaksikan dan disaksikan. Pada tahap pertama adalah fana’nya penyaksi, kemudian fana’nya yang disaksikan (Anda sebagai yang disaksikan dalam fana’).

Hamparan ketiga, adalah hamparan tawakal. Apabila datang kepadamu suatu intuisi selain tawakal, saya maksudkan adalah apa yang kami sebut terdahulu, baik Anda senangi atau tidak, dan Anda dibukakan cacat-cacat bisikan, maka duduklah pada hamparan cinta-Nya, sembari bertawakal pada-Nya, ridha terhadap yang tampak pada dirimu berupa dampak dari perbuatan-Nya dalam cahaya tirai-Nya.

Hamparan keempat, adalah hamparan doa. Apabila muncul bisikan intuisi yang lain, lantas Anda dibukakan bentuk kebutuhan (kefakiran) Anda kepada-Nya, maka Allah telah menunjukkan akan Kemahakayaan-Nya. Raihlah kefakiran sebagai hamparan, dan waspadalah untuk tidak jatuh dari derajat ini pada tahap lainnya, dikawatirkan Anda terjerumus dalam makar Allah sementara Anda tidak tahu.

Minimal, bila Anda mengalami kejatuhan dari derajat tersebut, Anda akan kembali pada diri Anda, sebagai pengatur atau pemilih yang menyebabkan Anda memuliakan diri Anda, dan selanjutnya tak ada kondisi ruhani bagi Anda untuk membawanya secara serius dan tekun, baik dalam lahiriyah maupun batin Anda, dengan mengharapkan agar Anda diberi sebagaimana Allah memberinya. Lalu bagaimana Anda bisa menentang-Nya, terhadap hal-hal yang Allah tidak berkehendak memberikan kepadamu.

Maka, dampak paling minimal dalam pintu ini, adalah tuduhan-tuduhan syirik, bahwa Anda telah menang, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Apabila Anda memang menang, lakukanlah sekehendakmu, dan Anda tidak akan mampu melakukan menurut kehendakmu selamanya. Ini menunjukkan besarnya ketekunanmu dalam memamahi tindakan-tindakan Allah Swt. Aku tidak akan ikut pada seorang hamba yang bodoh, atau seorang Ulama yang fasik.

Saya tidak tahu, dimana posisi Anda pada dua sifat ini; apakah pada kebodohan atau kefasikan, atau kedua-duanya? Kami mohon perlindungan Allah dari pengabaian jiwa dari mujahadah, dan kosongnya qalbu dari musyahadah. Pengabaian diri akan menolak syariat, dan pengosongan akan menolak tauhid. Sedangkan Sang Hakim telah membawa syariat dan tauhid. Karena itu tempuhlah dengan cara menjauhkan diri dari kontra terhadap Tuhanmu, agar menjadi orang yang bertauhid. Amalkanlah rukun-rukun syariat agar kamu menjadi pelaku Sunnah. Integrasikan keduanya dengan mata hati yang lembut, maka Anda akan meraih hakikat. Sebagaimana firman-Nya: “Atau tidakkah cukup bersama Tuhanmu, bahwa Dia Maha Menyaksikan segalanya?”

Kemudian bila muncul intuisi dalam muraqabahmu yang tidak disahkan oleh syariat atau pun yang disahkan syariat, atas apa yang berlalu dari dirimu, maka lihatlah apa yang diperingatkan dan diwaspadakan kepadamu. Apabila intuisi itu menjadikan Anda ingat kepada Allah, maka adab Anda adalah mentauhidkan-Nya di atas hamparan KeEsaan-Nya. Namun bila Anda tidak demikian, adab Anda adalah melihat adanya limpahan karunia-Nya, yang menempatkan dirimu melalui Kemahalembutan Kasih-Nya. Dan Dia menghiasi dengannya melalui kepatuhan pada-Nya, dengan mencintai-Nya secera khusus di atas hamparan Kasih-Nya.

Apabila Anda turun dari pintu derajat ini, sementara Anda tidak berkenan di sana, maka adabmu adalah memandang keutamaan-Nya, karena Dia telah menutupimu atas tindakan maksiat kepada-Nya, dan tirai itu tidak dibuka untuk makhluk lain. Namun apabila Anda berpaling dari adab ini, dan Anda ingat akan maksiat Anda, sementara Anda tidak diingatkan dengan tiga adab di atas, maka seharusnya Anda beradab dengan doa dalam taubat, atau sepadannya, demi meraih ampunan menurut tindak kejahatan yang anda lakukan, yang merupakan salah satu sisi dari yang dibenci syariat.

Namun apabila yang datang adalah intuisi ketaatan, lalu Anda datang dan mengingat siapa yang memberikan limpahan manfaat kepadamu, maka janganlah matamu memandang sejuk karenanya, tetapi harus mengingat pada Allah Yang memunculkannya. Sebab apabila pandangan mata Anda sejuk tanpa menyertakan-Nya, berarti Anda telah turun dari derajat hakikat.

Apabila Anda tidak berada pada derajat tersebut, hendaknya Anda menempati pada derajat berikutnya. Yaitu Anda menyaksikan akan keagungan keutamaan Allah terhadap diri Anda, karena Anda telah dijadikan sebagai orang yang layak dan pewarisnya berupa rizki kebaikan dari derajat tersebut. Bahkan diantara tanda-tandanya yang menunjukkan atas kebenarannya. Apabila Anda tidak menempatinya dan turun di bawahnya, maka Adab Anda adalah merenungkan secara mendalam pada ketaatan tersebut, benarkah hal itu memang taat yang sebenarnya dan Anda sendiri selamat dari tuntutan-tuntutan di dalamnya? Ataukah sebaliknya, justru Anda tersiksa karenanya? Na’udzubillah! dari segala kebajikan yang kembali pada keburukan. “Dan tampaklah pada mereka dari Allah, apa-apa yang tidak mereka perhitungkan.”

Jika Anda turun dari derajat ini pula kepada derajat lain, maka etika atau adab Anda adalah mencari keselamatan dari derajat tersebut baik melalui kebaikan maupun keburukannya. Seharusnya tujuan Anda yang berangkat dari kebajikan Anda lebih banyak dibanding tujuan dari pelajaran keburukan Anda, apabila Anda masih menginginkan termasuk golongan orang-orang shalih.

Apabila Anda inginkan suatu bagian, sebagaimana yang diberikan kepada wali-wali Allah Swt. Anda harus menolak semua manusia secara total, kecuali pada orang yang menunjukkan kepada Allah melalui petunjuk yang benar dan amal yang kokoh yang tidak kontra dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Berpalinglah dari dunia sepenuhnya, Anda jangan sampai tergolong orang yang ditawari dunia karena tindakan itu. Namun seharusnya Anda menjadi hamba Allah yang diperintah untuk melawan musuhNya. Jika Anda berada pada posisi dua karakter ini: berpaling dari dunia dan zuhud dari manusia, maka tegakkanlah muraqabah (mawas diri untuk fokus kepada Allah, menetapi taubat dengan penjagaan diri, memohon ampunan kepada Allah melalui kepasrahan dan kepatuhan terhadap aturan-aturan secara istiqamah.

Penafsiran empat adab tersebut: Adalah hendaknya anda menjadi hamba Allah, dengan cara:

Mewaspadakan hatimu agar tidak melihat di semesta raya ini sesuatu pun selain Allah Swt. Bila anda merasa meraih ini, akan ada panggilan intusi kebenaran dari Cahaya Kemuliaan, bahwa anda telah buta dari Jalan Benar, karena darimana anda mampu melakukan Muroqobah?

Hendaknya anda mendengarkan firman Allah Swt, “Dan Allah adalah Maha Mengawasi segala sesuatu.” Dengan begitu anda merasa malu atas taubat anda yang anda duga sebagai taqarrub, maka kokohkanlah taubatmu dengan menjaga hatimu. Dan jangan anda pandang bahwa taubat itu muncul darimu, yang membuat dirimu malah keluar dari jalan yang benar.

Bila anda merasa bahwa semua itu datang dari diri anda, maka akan muncul intuisi ruhani yang hakiki memanggilmu dari sisi Allah Ta’ala, “Bukankah taubat itu datang dariNya dan kembali padaNya? Sedangkan kesibukanmu yang menjadi sifatmu, adalah hijabmu atas kehendakmu?” Maka disanalah anda memandang sifat dirimu, lalu anda mohon perlindungan kepada Allah Swt, dari sifat itu. Lantas anda beristighfar dan kembali kepadaNya.

Istighfar itu berarti mencari tutup terhadap sifat-sifat burukmu dengan cara kembali kepada Sifat-sifatNya.

Apabila anda mampu beristighfar dan kembali, akan muncul pula panggilan hakiki seketika, “Tunduklah dengan aturan-aturanKu, dan tinggalkanlah penentangan terhadapKu, teguhlah dengan kehendakKu dengan melawan kehendak dirimu. Karena kehendakmu adalah bentuk pengambil alihan sifat Ketuhanan atas kehambaanmu. Maka jadilah engkau “hamba yang benar-benar dikuasai, tidak meliki kemampuan apa pun.” Sebab jika dirimu merasa mempunyai kemampuan, maka justru akan dibebankan padamu, sedangkan Aku Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Sumber: Sufinews.com
Bila anda telah benar dalam pintu ini dan anda disiplin di sana, maka anda meraih kemuliaan rahasia semesta

Mata hati Yang Buta

Seribu orang dari kalian belum tentu satu diantara kalian yang peduli denganKu,
Mana diantara kalian,, 
Puluhan tahun kau kaji Al Qur'an kau dalami Al Hadits,,
Namun.. engkau masih jauh dariKu
Aku sangat dekat denganmu
Ibadahmu menjauhkan dirimu
Tidakkah kau melihat Aku yang menghidupkanmu

Senin, 11 Februari 2013

Ulama' Sejati

Sa' tui jati teparan Ulama'
Si' alim sholeh ikhlas dan tegak
Berjuang ndekne ngarepan
Lek paden mahluk si' jari panjak
Cume lek nene' si' maha berhak
Dunia akhirat memberikan jasak

Sifat sak wajib lek para ambiya'
Wajib pada ulama'
Namun empat sifat sino ndekne arak
Marak jahil juhalak

Apelagin girang lekak
Remehan guru dait ina' ama'
Berjuang selalu mengambil muka
Lek paden mahluk si' jari panjat
Ngarep pujian kursi dan perak

Published with Blogger-droid v2.0.10

RAHASIA MUTIARA THARIQAT ANFASIYAH

Oleh:
USTAZ SAHFARI HASYIM

Thariqat anfasiah ialah thariqat yang mengajarkan zikir melalui jalan nafas, mula-mula thariqat ini di sebarkan oleh salah satu wali yang ada dipulau jawa yang dikenal dengan nama wali songo, diantara wali yang menyebarkan thariqat ini ialah Sunan Kali Jaga atau Raden Said.
Zikir nafas merupakan zikir tingkat tinggi dimana para penerima zikir ini akan dibawa kepada pengenalan “diri yang sejati” sehingga ia lebih dekat dengan dirinya yang haq. Disamping itu zikir napas ini akan membawa seseorang kepada maqam keabadian dalam berzikir, karena selama napas itu masih dikandung badan selama itu pula nafas ini tidak akan berhenti menyebut Allah swt. Nafas tidak mengenal cela, salah, tidak di gunjing, di fitnah, bahkan tidak pernah mencuri, merampok, membunuh dan lain-lain dari pada sifat-sifat yang mazmumah. Oleh karena itu nafas dapat dikatakan makhluk yang kudus (suci).
Zikir pada thariqat anfasiyah tidak di amalkan seperti kita mengamalkan zikir pada thariqat qadiriyah dan naqsyabandiyah. Zikir ini cukup di gerakkan atau di fungsikan melalui jalan bai’at kepada guru yang memiliki ijazah dari seorang mursyid yang sudah di akui kebenarannya. Apabila nafas sudah berfungsi maka ia tidak akan berhenti menyebut Allah swt, dalam dirinya sendiri, mengingat Allah swt, dalam dirinya sendiri dan nafas ini tidak mengenal lupa sekalipun seseorang itu dalam keadaan tidur bahkan dalam keadaan sakratul maut nafas itu tidak pernah lengah dalam mengingat Allah swt.
 

Rabu, 16 Januari 2013

Kajian Tasawuf Lombok melalui bedah karya sastra kuno Takepan

 Pembaca Takepan : Aq. Junaidi
Penerjemah takepan : TGH. Rahmat Hidayatullah
Kajian ini khusus untuk kalangan DEWASA..!
Untuk mendownload MP3 Takepan ini anda harus punya akun di www.4shared.com.
versi lain
Download dari Youtube.

Sufi Lombok: Untuk mengkaji kandungan takepan ini anda harus benar-benar berada ditingkat spiritual yang lebih tinggi supaya kandungan takepan yang sebenarnya dapat dipahami, dan terhindar dari salah tangkap yang akan menimbulkan fitnah. Untuk mencapai keadaan demikian anda harus mampu mematikan diri pandanglah diri YANG HAQ yang maha hidup dialah sumber segalanya, ingat bahasa manusia merupakan sumber fitnah dan kebohongan belaka belajarlah mendengarkan bahasa Allah, bergurulah kepadaNya.
Semoga bermanfaat.

Selasa, 01 Januari 2013

Mecari Diri

Annafs dari Allah adalah diri yang sejati. Awal penciftaan manusia adalah diciptakan jasad dari tanah oleh Allah lalu ditiupkan Annafs kedalam jasad lalu hiduplah adam. Penciftaan yang kedua seperti kehidupan nyata yang kita alami saat ini dari pernikahan bertemunya sperma dengan ovum lalu terbentuk segumpal daging setelah berumur 3 bulan ditiupkan annafs kedalam jabang bayi setelah 9 bulan 10 hari lahirlah manusia.
Kini lahirlah manusia baru dengan beberapa tingkat pertumbuhan dari anak anak dewasa hingga jadi orang tua. Dalam perjalanan hidup yang sangat singkat ini disibukkan oleh berbagai suka duka yang dihadapi seperti yang anda rasakan saat ini

Dari penomena singkat diatas jelas bahwa diri sejati kita telah dilupakan oleh berbagai masalah dunia sebagai contoh sibuk mencari kekayaan, kedudukan, menghadapi masalah baik rumah tangga, berorganisasi maupun dalam bermasyarakat.
Walaupun sekelumit masalah diatas dibarengi dengan ibadah namun jarang sekali orang sampai pada diri yang hak. Hanya terpaku pada perintah dan larangan Tuhan yaitu taat dan menyembah saja tak tau makana dari bersyariat sehingga tak ada yang sampai pada hakikat karena belum makrifat. Uraian ini perlu dikaji secara mendalam.

Published with Blogger-droid v2.0.9

Rabu, 26 Desember 2012

AL HIKAM IBNU AL ATAILAH 68, 69. KETAATAN ADALAH KURNIAAN ALLAH S.W.T

JANGANLAH KETAATAN KAMU KEPADA ALLAH S.W.T MENGGEMBIRAKAN KAMU KERANA KAMU MELIHAT TELAH MELAKSANAKANNYA, TETAPI GEMBIRALAH KERANA MELIHAT KETAATAN ITU DATANG DARI ALLAH S.W.T KEPADA KAMU. UCAPKANLAH: “DENGAN SEBAB KURNIA ALLAH S.W.T KEPADA HAMBA-NYA, MAKA DENGAN DEMIKIAN ITULAH MEREKA PATUT BERGEMBIRA, ITU LEBIH BAIK DARI APA YANG MEREKA KUMPULKAN”.
DILARANG KEPADA ORANG YANG MASIH BERJALAN MENUJU ALLAH S.W.T DAN ORANG YANG TELAH SAMPAI KEPADA-NYA DARI MELIHAT KEPADA AMAL PERBUATAN MEREKA DAN AHWAL YANG MEREKA BERADA DI DALAMNYA. ORANG YANG MASIH DALAM PERJALANAN BELUM MENCAPAI KETEGUHAN BENAR BERSAMASAMA ALLAH S.W.T DALAM AMAL DAN AHWAL. ADA PUN ORANG YANG TELAH SAMPAI, TELAH DILENYAPKAN ALLAH S.W.T KESEDARANNYA KE DALAM PENYAKSIAN (MELIHAT-NYA), TIDAK LAGI MELIHAT KEPADA AMAL DAN AHWAL.


Hikmat 67 menghuraikan, hatilah yang menghadap atau membelakang, berdasarkan kedudukan kerohanian seseorang. Hati yang baharu keluar dari selimut kegelapan dan masuk kepadanya cahaya Nur Ilahi akan melahirkan sikap gemar melakukan ketaatan kepada Allah s.w.t. Kalau dahulu dia memaksa dirinya untuk beribadat, kini dia berasa mudah untuk beribadat dan tidak berasa berat walaupun banyak ibadat yang dilakukannya. Perubahan yang berlaku ini disedarinya dan dia sangat bergembira dengan perubahan tersebut. Kadangkadang dia membandingkan amal kebaikannya dengan amal kebaikan orang lain yang masih hanyut dalam kelalaian. Bertambah ketara kepadanya akan kekuatan dia melakukan ibadat. Bertambah pula kegembiraannya. Lahirnya perasaan demikian adalah kerana kuat azamnya untuk berjuang membuang sifat-sifat tercela dan menghidupkan sifat-sifat terpuji. Apabila dia melihat sifatsifat terpuji sudah menghiasi dirinya timbullah kegembiraannya kerana usahanya telah mengeluarkan hasil yang baik. Beginilah kesan yang muncul pada orang yang bersandar kepada usaha dan amalnya. Inilah yang selalu berlaku kepada orang yang masih diperingkat permulaan, sebelum hatinya mencapai kematangan.

Orang yang bersandar kepada usaha dan amalnya tidak dapat maju dalam bidang kerohanian. Jika dia mahu maju dalam perjalanannya dia hendaklahmengubah haluan pandangannya. Dia tidak boleh lagi memandang dari amalkepada Allah s.w.t, sebaliknya dia hendaklah memandang dari Allah s.w.tkepada amal. Dia tidak seharusnya melihat amal sebagai kenderaan yangmembawanya menuju Allah s.w.t, sebaliknya dia seharusnya melihat amal ituadalah tarikan dari Allah s.w.t agar dia dapat menuju kepada-Nya. Dia tidakseharusnya berasa gembira melihat amalnya membawanya hampir dengan Allahs.w.t, kerana penglihatan begini mengandungi tipu daya. Dia hendaklah melihatAllah s.w.t sahaja yang bertindak membawanya hampir dengan-Nya. Amal yanglahir daripadanya adalah kurniaan Allah s.w.t sebagai tanda bahawa diadipersiapkan untuk bertemu dengan Tuhannya. Inilah seharusnya membuat diabergembira. Allah s.w.t memberi peringatan tentang perkara ini dengan firman-Nya:
Katakanlah (wahai Muhammad): “Dengan kurnia Allah dan dengan rahmat-Nya,maka dengan demikian seyogialah mereka bersukacita. Itulah yang lebih baikdaripada apa yang mereka kumpulkan”. ( Ayat 58 : Surah Yunus )
Dan jika tidaklah kerana limpah kurnia Allah dan belas kasihan-Nya kepadakamu, tentulah kamu (terbabas) menurut syaitan kecuali sedikit sahaja (iaituorang-orang yang teguh imannya dan luas ilmunya di antara kamu). ( Ayat 83 :Surah an-Nisaa’ )
Ayat di atas mengajak kita melihat bahawa diri kita tidak mempunyai sebarang daya dan upaya. Tidak bergerak sebesar zarah pun melainkan dengan izin Allah s.w.t. Segala-galanya datang dari Allah s.w.t. Allah s.w.t sahaja yang menciptakan segala sesuatu termasuklah amal kebaikan yang kita lakukan. Kita sendiri tidak mampu melakukan perbuatan baik itu. Apa juga kebaikan yang muncul dari kita adalah kurniaan Allah s.w.t kepada kita. Amal kebaikan itu adalah rahmat dari Allah s.w.t, bukan hasil usaha kita. Jadi, kita sepatutnyabergembira menerima rahmat-Nya tidak bergembira melihat diri kita berbuat kebaikan.

Satu lagi tipu daya yang halus yang sering mengganggu perjalanan seorangmurid adalah keinginan untuk mengetahui makam yang telah dicapainya. Diasuka mengintai-intai dirinya. Dia bertanya pada dirinya apakah hatinya sudahsuci bersih, apakah dia sudah mencapai martabat wali Allah, apakah dia sudahmenjadi Insan Kamil, apakah dia sudah mencapai makam bersatu dengan Allahs.w.t, apakah sudah ada kekeramatan pada dirinya dan lain-lain darjatkerohanian. Perkara yang seperti ini boleh mengganggu perjalanan kerohaniankerana ia menjuruskan perhatian kepada diri sendiri dan menambahkankekebalan hijab diri dan semakin menutup mata hati dari melihat kepada Allahs.w.t. Selagi dia ‘menghidupkan’ dirinya dalam kesedarannya selagi itulah diatidak dapat masuk ke Hadrat Allah s.w.t.
Orang yang mahu mencapai Allah s.w.t hendaklah terlebih dahulu mencapaimakam benar bersama-sama Allah s.w.t dalam amal dan ahwalnya. Hatinyasentiasa teguh bersama-sama Allah s.w.t, bukan bersama-sama dirinya,amalnya dan kedudukan kerohaniannya. Maksud dan tujuan hanyalah Allahs.w.t. Amal dan ahwal bukanlah tujuan tetapi hanya alat untuk menuju kepadatujuan. Orang yang telah sampai kepada matlamat memperolehi kedudukanbenar bersama Allah s.w.t. Akal, nafsu dan hati berada dalam suasana harmoni.
Apabila akal dan nafsu tidak lagi menghijab, maka mata hatinya menjadi celik dan dia masuk kepada penyaksian. Hatinya menyaksikan amal kebaikan yang keluar daripadanya adalah kurniaan Allah s.w.t, maka dia lenyap dalam perbuatan, takdir atau lakuan Allah s.w.t. Dia tidak lagi melihat kepada amal tersebut. Ahwal adalah tajalli Allah s.w.t kepada hamba-Nya. Apabila Allah s.w.t bertajalli, segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya. Kesedaran si hamba hilangdalam penyaksian hakiki mata hati. Pandangan yang hakiki tidakmemperlihatkan amal dan ahwalnya. Dia hanya menyaksikan Allah s.w.t YangMaha Esa.

Ikuti juga Kajian Al Hikam DISINI